Sabtu, 23 Oktober 2010

Insiden Malam Minggu. (aku post-kan tepat malam Minggu)

Tue, July 6th 10

Jaket, helm, minyak wangi, jeans, plus poni dirapikan. Mirip saat mengisi acara anak punk!
"Yo, motorku sudah kamu bersihkan belum?" katanya itu masih menata rambut yang lebih mirip Elvis Persley dari pada Ariel Peterpan.
"Siap Zac! Tinggal bawa ngacir." lelaki yang di luar menyahut. Ariel Gadunganpun keluar dengan senyuman yang mirip dengan siulan burung kakaktua keselek.
"Oke. Makasih, Yo!" ia langsung membawa motornya ke jalanan. Maklum, malam minggu. Di angkringan terlihat pasangan muda mudi yang menikmati malam panjang itu. Padahal durasi malam Minggu sama dengan malam Senin, Selasa,Rabu, Kamis, Jum'at, dan Sabtu. Tapi tak tahu mengapa anak sekarang menyebut malam Minggu adalah malah yang panjang.
"Rel, ditunggu Zacky di luar. Cepet, gih!" kata wanita separuh baya yang masih terlihat muda dengan "topeng" make-up nya. Iapun dengan cepat keluar untuk menemui pujaan hati. Setelah pamit dengan camer, panggilan Zacky kepada ibunda Aurel, merekapun langsung cabut entah kemana.
"Kemana, Non?" tanya Zacky di tengah jalan.
"Katanya mau ke angkring."
"Ah, rame. Penuh orang. Ndak bisa romantis-romantisan. Hehe... ."
"Ah, Akang ini... . Ya sudah, terserah." Bagai kereta kehabisan bahan bakar, kereta bisa sampai kehabisan bahan bakar, ya? Zacky mengemudi dengan pelan, supaya bisa lebih lama bersama kekasihnya. Padahal kalau sedang sendirian, jangan tanya. Nanti dikira Valentino Rossi berkunjung ke Indonesia!
Sampai di sebuah cafe outdoor di perempatan kota. Tempatnya lumayan ramai. Buka tiga hari seminggu saat weekend. Dari jauh terlihat band lokal yang mengisi acara weekend itu. Zacky memilih tempat di sebelah kanan panggung, di bawah pohon mangga. Agak dingin juga. Asyik buat anget-angetan, kata Zacky.
Waktu menunjukkan pukul delapan. Berarti sudah satu setengah jam mereka nongkrong di tempat itu. Berdasar lagu Jamrud berjudul "Surti dan Tedjo", namun diubah menjadi "Aurel dan Zacky", Mirip demo masak, Zacky mulai berakting di depan Aurel. Zacky mendekati Aurel. Awalnya memang sudah dekat. Lebih dekat. Kemudian melingkarkan tangan kirinya ke bahu Aurel. Aurelpun sempat tak mau dirangkul Zacky di tempat umum seperti itu.
"Ndak apa-apa. Pegang bahu saja, Non." rayu Zacky. Aurelpun diam. Beberapa saat kemudian, barulah Si Tedjo melancarkan aksinya. Ia berniat mencium Aurel. "Non, aku mau tanya kamu."
"Tanya apa?"
"Tapi jangan marah, ya." Aurel mengangguk.
"Aku... . Aku mau... ." Zacky tak melanjutkan bicaranya. Kemudian ia sedikit demi sedikit mendekatkan kepalanya ke wajah Aurel. Dengan wajah gugup, Aurelpun bingung mau berbuat apa. Saat 'hampir', Aurel melihat benda mungil menggeliat di leher Zacky.
"Aarrgghh!!" teriaknya yang hampir membubarkan acara weekend itu lalu mendorong Zacky hingga hampir terjungkur, ia lalu berdiri ketakutan. Zacky hampir saja jatuh dari singgasananya. Ia kaget bukan main. Apa? Pikirnya. "Zacky, di lehermu... ." Aurel menunjuk-nunjuk leher Zacky. Ia lantas menggerayangi lehernya. Alhasil! Makhluk imut yang membuat pacarnya ketakutanpun tertangkap tangannya. Ulat! Zacky langsung membuang ulat itu lantas berdiri dan menenangkan pacarnya. Ia meminta maaf pada pengunjung yang lain karena memuat kericuhan yang mirip KDRT itu. Semua langsung mengarah pada kesibukannya masing-masing.
Beberapa menit setelah demo masak terjadi, ada yang aneh dengan leher Zacky. Gatal! Aurel melihat leher Zacky memerah. Aurelpun menawari Zacky untuk mencari obat. Dan, ok.
Sampai di apotik, yang dibeli Aurel adalah obat yang sangat terkenal dan murah meriah bak pasar malam! Balsem! Glek! Zacky menelan ludah.
"Dioles balsem aja. Kesini, aku oleskan."
"Ta, tapi, tapi, Non... ."
"Sudah, kesini. Nanti tambah parah, lho... ." Dengan malu-malu tapi mau, ia akhirnya mau dioles balsem. Untung yang menawari Aurel. Kalau Yoyok?? Sampai mati kecemplung kali tak akan mau. Dengan lembut Aurel mengelus-elus leher Zacky. Wah, rasa gatal jadi benar gatal. Pikir Zacky nakal. Setelah selesai, rasa gatal yang Zacky deritapun berkurang. Namun, ada yang mengganjal. Bau minyak wangi yang baru ia beli tergantikan aroma balsem! Dari kost wanginya seperti mau kondangan. Sekarang? Lebih mirip kakek yang encoknya kumat!
"Ndak apa-apa, Zac. Yang penting Akang Zacky masih ganteng." sambil tersenyum malu Aurel berkata. Dengan ragu, Zackypun tersenyum. Sudah hampir jam sembilan. Zacky langsung mengajak Aurel pulang. Ia tak mau mengajak keluar pacarnya lebih dari pukul sembilan. Menjaga nama baik di depan camer. Bacotnya kalau sedang berbicara dengan Yoyok. Sesampainya rumah Aurel biasanya ia mampir sejenak. Namun kali ini ia langsung kabur ke kost.
Sial! Sampai di kost bau balsempun belum juga hilang. Bisa diejek anak-anak. Pikir Zacky. Di dalam kost, Yoyok masih melakukan ritual malamnya. Nonton tv! Ia mendengus mirip Fleky, anjing ibu kost.
"Bau apa, Zac? Mirip kakek pakai obat." iapun tahu pusat aroma itu. "Kamu pakai balsem?" tak percaya Yoyok tanya pada Zacky. Ia menyeret Yoyok ke sofa. Bau yang ia hirup semakin jelas. Zacky menunjuk lehernya. Astaganaga! Yoyok lalu tertawa keras hingga Radit keluar dari kamarnya.
Ia menceritakan apa yang baru dialami. Yoyok semakin tak tahan dengan ceritanya.
"Kasihan... . Haha!" ejek Yoyok.
"Sumpah Yok! Suer demi es teler seger seember diminum sampai mblenger! Aku malu setengah mati!"
Malam itupun Zacky kena getah karena ingin mencoba hal yang aneh dengan pacarnya. Plus bau balsemnya susah hilang. So malam itu Yoyok terganggu dengan kehadiran "teman" baru kenangan Zacky.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar