made on Monday, 21st June'10
GADIS MAWAR MERAH
Suasana kota Semarang di sepanjang pantai dengan angin yang sejuk seakan melepas kerinduan Arka akan kota kelahirannya itu. Sudah hampir satu setengah tahun ia tidak mengunjungi kota ini karena tuntutan pekerjaannya di Bandung. Masih saja sama seperti saat terakhir ia menginjakkan kaki di sana. Namun masih saja ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.
"Ibu, bapak, nenek, udah ketemu. Si Mona sama Ruli juga udah. Ehmmm... . Siapa lagi ya?" lama ia berpikir hingga tersadar dari apa yang ia coba ingat. "Ah! Randy! Iya, aku bahkan hampir lupa sama temen sendiri." Dengan segera iapun mengambil helm dan langsung meraih motor maticnya. Hampir lupa ia dengan rumah sahabatnya itu. Iapun berhenti di pertigaan. Terlihat gadis muda di sana. Tampak sexy dengan baju pink yang ngepas dengan ukuran badannya. Dengan agak ragu iapun bertanya pada gadis itu.
"Emmm... . Maaf, mbak. Mau numpang tanya. Toko Surya376 itu sebelah mana, ya?"
"Oh, mas kelewatan. Dari pertigaan ini ke belakang, mas. Nanti belok kiri nomer tiga. Pagarnya bercat biru." jawab gadis itu dengan lembut sambil menunjukkan arah-arahnya pada Arka.
"Oh alah... . Kelewatan ya, mbak... . Aduh... . Baru satu setengah tahun aja sudah lupa saya ini. Kalau begitu terima kasih ya mbak... ." dengan hati senang bukan karena ingat jalan rumah Randy, namun senang karena baru saja ketemu cewek cantik yang sexy. Dengan semangat iapun langsung menyetir motor maticnya menuju jalan yang diberitahukan gadis tadi.
Sampainya di Toko Surya376, yakni rumah Randy, iapun bercerita pada sahabatnya itu tentang gadis yang ditemuinya di tengah jalan tadi bak penyair yang memuja keindahan bidadari yang ia temui di surga.
"Wah, kamu kalau ketemu cewek itu, Ran... . Beee... . Geulisnya minta ampuuun... ." kata Arka pada Randy sambil membayangkan kecantikan gadis itu yang masih diingatnya.
"Masa' sih, Ka? Seumur-umur aku hidup di Semarang, gak pernah lihat ada gadis bohay lagi seliweran di jalanan. Apa lagi di kompleks Mawar Merah. Jarang, euy!"
"Aaah... . Mau kuajak ke tempat itu kalau kamu masih tidak percaya?"
"Oke. Tapi hari ini aku masih sibuk sama urusan tokoku. Maklum, Abah sama Ummi lagi ke luar kota buat melayani pelanggan."
"Besok atau lusa. Soalnya aku cuma satu minggu di Semarang."
"Lusa saja deh."
Arkapun menepati janjinya. Hari itu ia mengunjungi rumah Randy lagi untuk menunjukkan bidadari yang ia temui di kompleks Mawar Merah itu.
"Nah, aku ketemu cewek itu di sini." kata Arka sesampainya di tempat ia menemui cewek itu. Namun Randy agak heran dengan apa yang di tunjukkan sahabatnya tersebut. Ini mah, bukannya kompleks si kupu-kupu malem, ya? pikir Randy. "Nah, itu tuh, Ran! Yang duduk di samping bunga Mawar tuh." Arka menunjuk tempat gadis itu berada.
"Yang pake baju biru itu?"
"Yo'i... ."
"Kamu tertarik sama cewek itu?"
"Lelaki mana yang gak tertarik kalau lihat cewek sebohay itu, Ran... . Kamu pasti juga tertarik, kan?"
"Kamu punya uang berapa?"
"He? Apa maksud kamu?" Arka heran melihat wajah Randy yang terlihat mengejek.
"Kamu udah berapa tahun lewat kompleks ini sih, Ka? ini tuh kompleksnya para pelacur!" jantung Arka terasa hancur mendengar perkataan Randy.
"Apa??! Yakin kamu, Ran?"
"Kamu itu lebih pengalaman mana sama aku soal kompleks ini, ha?" Kembali terasa sakit hati Arka. Astaghfirullah hal Adzim... . Batin Arka. Ia pun langsung menggenjot motor kesayangannya untuk segera pergi dari tempat kotor itu. Ia terasa jijik telah hampir menyukai wanita panggilan. Dengan hati menyesal, iapun mengantar Randy pulang.
"Ntar sampai rumah, kamu langsung mandi gedhe, ya... ." Ledek Randy pada Arka.
"Hiii... . Nyesel abdi hampir suka sama tuh cewek. Hii... ." kata Arka sambil menjingkat-jingkatkan badannya. Iapun langsung pulang ke rumah.
Tak terasa seminggu sudah ia di Semarang. Banyak sekali kenangan selama waktu singkat ini. Dari berkunjung ke rumah neneknya, ketemu mantan pacarnya, ke rumah sahabatnya hingga akhirnya malah ketemu dengan gadis panggilan. Wah, pengalaman yang begitu berharga baginya. Sepanjang perjalanan ke Bandung, ia chatting dengan calon istrinya tentang apa yang ia alami selama di Semarang. Calon istrinya hanya tertawa membaca cerita bakal suaminya tersebut.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar