Harajuku Style di mata anak-anak remaja Indonesia pengertiannya adalah gaya berbusana yang aneh, nyentrik, dan serba ngejreng.
Tidak jauh dari Harajuku Station, kita bisa melihat cewek-cewek Harajuku dengan dandanan mereka yg aneh-aneh. Rupanya berita ini mungkin saja tersiar sampai ke tanah air yang mungkin disebarkan lewat media atau mungkin juga lewat cerita- cerita orang Indonesia yang pernah tinggal di Jepang lalu kembali ke Indonesia. Harajuku menjadi popular setelah diliput media cetak seperti majalah Anan dan non-no pada saat pembukaan departement store besar-besaran di tahun 1970-an. Banyak anak-anak muda Jepang yang doyan jalan-jalan di harajuku, njiplak pola pakaian di majalah itu.
Namun, di balik itu semua, ada beberapa hal yang berbeda antara Harajuku Style yang berkembang di Jepang dengan Harajuku Style remaja Indonesia. Di Indonesia, nampaknya mereka tidak seberani remaja jepang dalam mengekspresikan diri.Sebenarnya Harajuku Style versi Jepang asli benar-benar sudah tak mengedepankan lagi etika moral berpakaian.
Gaya Harajuku versi Jepang tak hanya sekedar motong rambut jadi acak-acakan dan mengenakan pelindung tubuh yang gokil. Sebut saja gothic lolita yang kebanyakan dipakai oleh cewek-cewek Jepang, dengan pola busana elegan, gothic, feminin, dan menjadikan si pemakai seperti boneka Victoria. Selain itu, ada gaya J-Punks, yang terinspirasi dari gerakan punk di awal 70-an. Cosplay, membuat diri dan pakaian kita semirip mungkin ama tokoh anime atau karakter game, dengan ciri khas warna- warna cerah, flamboyan, dan nyentrik. Kawaii, tentunya pakaian yang dikenakan juga kudu lucu dan imut. Dan wamono, yang merupakan gabungan antara busana Jepang dengan barat. Gampangnya kimono plus celana jeans.
Sementara Indonesian Harajuku Style biasanya masih terbatas pada ekspresi gaya rambut, dan dandanan yang tidak terlalu mencolok (walaupun sudah ketebak kalau itu harajuku style versi pas-pasan). Mereka baru berani berpakaian Harajuku Style yang sebenarnya ketika ada event festival cosplay atau matsuri ala orang Indonesia aja. Sedangkan dalam kesehariannya, sefanatik apapun orang itu dengan gaya yang diusungnya, tetap dia tidak akan berani berekspresi seheboh remaja Jepang. Kebanyakan karena alasan malu.
Nah, dari sini bisa kita dapat kesimpulan, kalau pada kenyataannya mereka tetap harus bertubrukan dengan benteng aturan norma masyarakat umum Indonesia yang masih menganggap hal itu aneh. Beda kalo mungkin mereka siap dipanggil orang gila atau preman karena pake dandanan macam begitu.
Gak semua efek akulturasi budaya bisa berbahaya asal masih bisa ditempatkan pada tempat yang semestinya dan tidak berlebihan. Tapi kalau udah nyinggung masalah etika, moral, dan lebih lagi agama, waah... . lebih baik dipikir-pikir lagi sebelum melakukannya.
OK, guys???
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar